Senin, 23 Mei 2011

HAKIKAT PERANAN ORANG TUA

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Anak merupakan buah hati orang tua. Anak adalah dambaan setiap orang tua saat di dunia. Anak menjadi permatan hati dan ketika di akhirat kelak anak adalah teman yang menyenangkan di d alam surga. Di dalam dirinya terdapat keunikan yang dalam perjalanan tumbuh kembangnya memerlukan penanganan yang berbeda-beda.

Anak usia 4-6 tahun merupakan bagian dari anak usia dini yang berada pada rentangan usia lahir sampai 8 tahun. Pada usia ini disebut sebagai usia prasekolah. Perkembangan kecerdasan pada masa ini mengalami peningkatan. Hal ini menunjukkan pentingnya upaya pengembangan seluruh potensi anak usia prasekolah.

Emosi sebagai salah satu aspek psikologis memainkan peranan penting dalam kehidupan seorang anak. Aspek ini merupakan perkembangan mental anak untuk bersosialisasi dan beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Setiap bentuk emosi pada dasarnya membuat hidup terasa lebih menyenangkan, karena dengan emosilah anak akan merasakan getaran-getaran perasaan dalam dirinya maupun orang lain. Sejak lahir, emosinya berkembang secara bertahap melalui interaksi dengan orang tuanya, juga dengan orang lain di lingkungannya.

Orang tua memegang peranan penting dalam mengembangkan emosi anak, orang tua berperan dalam pengawasan dan pengendalian secara umum, juga memberikan keleluasaan kepada anak untuk melakukan hal-hal yang bisa anak atur sendiri. Proses pengawasan ini meskipun tidak selalu orang tua langsung tetap kendali ada pada orang tua. Pengawasan dilakukan dengan cara memonitor, membimbing dan memberi dukungan terhadap kegiatan anak yang positif dalam suatu jarak tertentu.

Pada kenyataannya, masih ada orang tua yang menyerahkan segala sesuatu perkembangan anaknya pada pihak sekolah, dengan alasan orang tua menyekolahkan anaknya di sekolah unggulan, sehingga alasan orang tua mengabaikan peranannya dalam memberikan kebutuhan emosi anak. Orang tua bekerja hingga larut malam, hingga sesampainya di rumah orang tua ingin istirahat sehingga tidak ada waktu lagi untuk bercengkrama dengan anak. Hal tersebut pun menjadi faktor orang tua menugaskan tugasnya pada pihak lain.

Berdasarkan kenyataan tersebut, peran orang tua dalam mengembangkaan emosi anak usia 4-6 tahun sangat penting sekali karena di masa itulah yang akan menentukan perkembangan selanjutnya, dengan mengembangkan dan mengarahkan emosi anak, orang tua akan lebih mampu untuk mengatasi berbagai masalah yang timbul selama proses perkembangannya menuju manusia dewasa nanti. Anak pun akan lebih siap untuk mengatasi tantangan emosional dalam kehidupan modern dengan persaingan ketat.

B. Perumusan Masalah

Mengacu pada uraian latar belakang tersebut di atas, maka permasalahan pada penulisan ini dapat diidentifikasi sebagai berikut yaitu “Bagaimana peranan orang tua dalam mengembangkan emosi anak usia 4-6 tahun”

C. Tujuan Penulisan

  1. Umum

Untuk dapat meningkatkan pemahaman yang luas dalam mengembangkan emosi anak usia 4-6 tahun.

  1. Khusus

Untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang pentingnya perkembanagan emosi anak usia 4-6 tahun dan bagaimana orang tua dalam mengembangkan emosi anak yang seharusnya mereka lakukan pada anaknya.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Hakikat Peranan Orang Tua

1. Peranan Orang Tua

Orang tua merupakan lingkungan terdekat anak, selain orang-orang sekitarnya. Orang tua dan anak yang berada dalam suatu kondisi lingkungan adalah keluarga inti. Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak-anak didik pertama kali oleh lingkungan pertamanya yaitu keluarga, labih khusus orang tuanya. Hal ini yang menjadi perhatian karena anak tersebut merupakan produk dari keluarga.

Lingkungan kedua yang berfungsi juga sebagai tempat pendidikan di luar adalah masyarakat. Dalam masyarakat tersebut anak akan berinteraksi dengan orang lain sehingga baik secara langsung maupun tidak langsung akan saling mempengaruhi pembentukan pribadi anak.

Jika orang tua sabar secara intensif mendukung serta bisa menjadi teladan, maka hal itu jelas masukan yang sangat berartidalam proses pembentukan anak seperti Rasulullah SAW katakana bahwa anak memiliki fitrah, tauhid yang secara potensial dapat dikembangkan.

Peran orang tua merupakan kegiatan untuk mengembangkan segala potensi anak. Kegiatan tersebutlah yang akan mempengaruhi anak, termasuk dari sisi emosinya. Peran orang tua sebenarnya tidak hanya sekedar mengembangkan emosi bagi anak tetapi juga ada aspek-aspek lain yang mutlak dilakukan oleh orang tua, yaitu aspek afektif kognitif dan psikomotor. orang tua memberikan perhatian dan rangsangan mental pada anak sedini mungkin. Karena hal ini akan mengembangkan potensi anak secara optimal karena pendidikan anak balitapenting sekali. Artinya dengan menyerahkan pendidikan anak balita kepada perawat atau pembantu adalah tindaakan yang kurang bijaksana.

Menyediakan sarana yang cukup, merupakan juga peran yang dilakukan oleh orang tua untuk pengutaran potensi anak baik secaara kognitif, afektif maupun psikomotorik. Karena tanpa adanya sarana sebagai alat realisasi, maka potensi anak tidak akan berkembang secara optimal. Pada perannya juga, orang tua sedapat mungkin mendukung perkembangan anak dalam memenuhi kebutuhan gizi dan materi. orang tua yang mampu memenuhi kebutuhan emosi anak berarti sudah memenuhi salah satu kebutuhan anak, yaitu kebutuhan emosi. Kebutuhan emosi ini meliputi kebutuhan kasih sayang, keamanan, pengalaman akan hal-hal baru pujian dan tanggung jawab.

2. Pola Asuh Orang Tua

Peranan orang tua terhadap anak tidak terlepas dari sikap perlakuan yang diberikan dengan cara yang berbeda dengan situasi yang tetap kondusif sesuai untuk anak sehingga kelak tidak memberikan dampak yang negatif. Untuk itu peran orang tua terhadap anak diharapkan memberikan pola asuh yang tepat agar perkembangan emosi anak berkembang secara optimal. Dalam bukunya menurut Soegeng Santanso [1], pola asuh adalah cara pendekatan orang dewasa kepada anak dalam memberikan bimbingan, arahan, pengaruh dan pendidikan supaya anak menjadi dewasa dan mampu berdiri sendiri. Pada prinsipnya pola asuh ini ada tiga macam, yaitu :

  1. Pola asuh otoriter

Yaitu cara pendekatan atau pengasuhan yang berciri khas disiplin yang tinggi dan cenderung otoriter dari orang tua. Agar anak menjadi penurut, tertib dan tidak melawan. Pola ini ada yang bersifat tradisional berdasarkan adat istiadat dan agama. Akibatnya anak mempunyai inisiatif tidak pernah kreatif dan takut salah, tidak banyak kemauan dan menerima apa adanya, bahkan anak sering tertekan yang akhirnya tidak mengalami pertumbuhan dan perkembangan secara wajar.

  1. Pola asuh permisif

Yaitu pola asuh yang bersifat lunak, anak dibiarkan oleh pendidiknya. Anak diberi kebebasan, sehingga akan tumbuh dan berkembang secara normal. Rambu-rambu yang diberikan oleh pendidik tidak terlalu banyak bahkan sedikit sekali. Anak boleh mempunyai inisiatif, mencoba dan mengusulkan sesuatu kepada pendidik. Pendidik banyak bersifat masa bodoh. Sehingga anak dalam berperilaku terdapat kesalahan, karena tidak sesuai dengan norma dan nilai pendidikan, pengawasan dari pendidik sedikit, sehingga anak merasa tidak takut, lalu bertindak atas dasar kemauan sendiri.

  1. Pola asuh demokratis

Yaitu pola asuh yang menekankan pada pemberian kesempatan terhadap anak agar tumbuh dan berkembang secara wajar, tetapi penuh dengan pemantauan dan pengawasan. Anak diberi hak untuk mengeluarkan pendapat, saran dan inisiatif. Tetapi keputusan ada pada pendidik. Hak anak didengar, dihargai dan diakui. Karena anak mempunyai kemampuan, kelebihan dan sesuatu kekhususan yang mungkin tidak dimiliki oleh pendidik.

Ketiga macam pola asuh di atas semuanya dapat dilaksanakan oleh pendidik sesuai denagan situasi, kondisi, umur dan perkembangan anak serta tujuan yang hendak dicapai. Oleh karena itu pendidik harus arif dalam memilih salah satu pola asuh yang akan dilakukan jangan sampai salah.

B. HAKIKAT EMOSI

  1. Pengertian Emosi

Emosi bagi anak disebabkan kemampuan ini mewarnai kegiatan anak. Selayaknya warna memiliki banyak macamnya dan warna tersebut akan memberikan efek. Warna tersrbut akan memberikan efek. Warna tersebut akan indah bila yang mewarnai mampu mewarnai, sehingga yang di warnai menimbulkan efek indah dipandang dan nyaman untuk dinikmati, menurut Sarlito Wirawan, S. dalam buku syamsu yusuf.[2] Emosi merupakan “ Setiap keadaan pada diri seseorang yang di sertai warna efektif baik pada tingkat lemah (Dangkal) maupun pada tingkat yang luas (Mendalam).

Dalam pengerian diatas, di kemukakan bahwa emosi itu merupakan warna efektif yang menyertai setiap keadaan atau perilaku individu, yang dimaksud wrna efektif ini adalah perasaan. Perasaan tertentu yang di alami oleh anak pada saat menghadapi (menghayat). Suatu situasi tertentu. Contohnya gembira, bahagia, putus asa, terkejut, benci (Tidak Senang) dan sebagainya.

  1. Jenis Emosi

Emosi anak berbeda dengan emosi orang dewasa atau orang tau, hal itu di sebabkan faktor kematangan dan faktor belajar perkembangan emosi yang berbeda, anak memiliki jenis karakteristik, jenis emosi yang unik terlebih ketika adanya kesesuaian dengan ekspresi di luar beberapa perubahan fisik yang tampak dari ekspresi perasaanya.

Menurut Goleman[3] ada beberapa jenis emosi yang memang sering muncul pada diri anak, Pertama, amarah., Beringas., Mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati terganggu, rasa pahit, berang, tersinggung, bermusuhan dan paling hebat yakni tindak kekerasan. Kedua, Kesedihan, Perih, Sedih, Muram, Melankolis, Mengasihani, diri, kesepian, Ditolak, Putus Asa, dan dapat menjadi depresi berat. Ketiga, Rasa Takut, Cemas, takut, Gugup, Khawtir, Was-was Perasaan takut sekali, Waspada, tidak tenang dan dapat menjadi phobia serta panik. Keempat, Kenikmatan InderawiTakjub, Terpesona, Terpenuhi, Kegirangan Luar biasa dan senang sekali Kelima, Cinta, Penerima, Persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, Hormat, Kasih. Keenam, Terkejut, Takjub, Terpanah,. Ke Tujuh. Jengkel Hina Jijik, Muak Benci, Tidak Suka, Mau Muntah, Kedelapan, Malu, Rasa salah, Malu Hati, Kesal Hati, Sesal Hati, Hina, Aib, Dan Hati Hancur, Jenis emosi itu timbul sesuai dengan rangsangan yang di terima anak.

Emosi memainkan peranan penting dalam kehidupan anak, tiap jenisnya pada dasasrnya membuat hidup menjadi sehat, sehat karena Jujur, Misalnya : Anak tidak dapat menutupi rasa sedih ingin menangis ketika anak tersebut di rusak mainannya oleh temannya, dengan demikian emosi pada anak sangat berbeda dengan emosi orang dewasa.

  1. Ciri-Ciri Emosi

Emosi sebagai Suatu Peristiwa Psikologis Mengandung ciri-ciri sebagai berikut : Yang Di kemukakan oleh Canon Bard[4] di dalam Buku Syamsyu Yusuf.

  1. Lebih bersifat subjektif daripada peristiwa Psikologis lainnya seperti pengamatan dan Berfikir.
  2. Bersifat Fluktuatif (Tidak Tetap).
  3. Banyak bersangkut paut dengan perstiwa pengenalan Panca Indera.

Mengenai Ciri-ciri Emosi ini dapat juga di bedakan antara emosi anak dengan emosi orang dewasa sebagai berikut :

    • Emosi Anak

Þ Berlangsung Singkat dan Berakhir Tiba-tiba.

Þ Terlihat Lebih Hebat/ Kuat.

Þ Bersifat Sementara / dangkal.

Þ Lebih Sering terjadi

Þ Dapat di ketahui dengan jelas tingkah lakunya.

    • Emosi Orang dewasa

Þ Berlangsung lebih lama dan berakhir dengan lambat

Þ Tidak terlihat hebat atau kuat.

Þ Lebih Mendalam dan lama

Þ Jarang terjadi

Þ Sulit diketahui karena lebih pandai menyembnyikannya

Berdasarkan Variasi diatas, jelas kelihatan berbeda antara Emosi anak dan Emosi orang dewasa. Emosi anak bersifat sementara, sedangkan emosi orang dewasa berlangsung lebih lama, akan tetapi orang dewasa lebih disembunyikan emosinya kalau anak-anak tidak dapat di sembunyikan dengan cara spontan.

C. Karakteristik Perkembangan emosi anak 4-6 tahun

Perkembangan emosi anak 4-6 tahun adalah anak yang rasa ingin tahu dan sikap antusias yang kuat terhadap segala sesuatu merupakan ciri yang menonjol pada anak usia 4-6 tahun. Ia memiliki sikap berpetualang yang begitu kuat. Ia akan banyak memperhatikan, membicarakan atau bertanya tentang berbagai hal yang sempat dilihat atau didengarnya. Secara khusus, anak pada usia ini juga memiliki keinginan yang kuat untuk lebih mengenal tubuhnya sendiri. Ia senang dengan nyanyian, permainan dan atau rekaman yang membantunya untuk lebih mengenal tubuhnya itu.

Anak usia ini masih tidak dapat berlama-lama untuk duduk dan berdiam diri. Menurut solehudin (1997) [5]sepuluh menit adalah waktu yang wajar bagi anak usia sekitar 5 tahun ini untuk dapat duduk dan memperhatikan sesuatu secara nyaman.

Bagi anak usia ini, gerakan-gerakan fisik tidak sekedar penting untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan fisik, melainkan juga dapat berpengaruh positif terhadap penumbuhan rasa harga diri dan bahkan perkembangan kognisi. Kualitas lain dari anak usia ini adalah abilitas untuk memahami pembicaraan dan pandangan orang lain semakin meningkat sehingga keterampilan komunikasinya juga meningkat. Sehingga anak usia 4-6 tahun perkembangan emosinya belum stabil. Mereka belum bisa memilih mana yang baik dan mana yang salah.

Apa yang diungkapkan di atas adalah yang lajunya dialami oleh anak usia prasekolah. Sesuai dengan sifat individu yang unik, adanya variasi individual dalam perkembangan anak merupakan hal yang normal terjadi. Kadang-kadang anak yang satu lebih cepat berkembang daripada anak-anak lainnya. Begitu pun dalam hal perkembangan emosinya. Anak usia ini dalam hal emosinya hanya bersifat sementara, tetapi sering terjadi. Akan tetapi emosi anak usia 4-6 tahun dalam emosi berlangsung singkat dan berakhir tiba-tiba tetapi dapat diketahui dengan jelas tingkah lakunya.

BAB III

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa emosi pada anak setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai dengan warna afektif baik tingkat lemah (dangkal) maupun pada tingkat yang luas (mendalam). Dalam pengertian di atas, dikemukakan bahwa emosi itu merupakan warna afektif yang menyertai setiap keadaan atau perilaku individu. Yang dimaksud warna afektif ini adalah perasaan-perasaan tertentu yang dialami pada saat menghadapi (menghayati) suatu situasi tertentu, contohnya gembira, bahagia, putus asa, terkejut, benci (tidak senang) dan sebagainya.

Emosi orang dewasa dan emosi pun mempunyai ciri atau karakteristik yang berbeda, kalau kita lihat emosi anak ini berlangsung singkat dan berakhir tiba-tiba, bersifat sementara, lebih dan dapat diketahui dengan jelas dari tingkah lakunya. Sedangkaan emosi orang dewasa adalah berlangsung lebih lama dan berakhir dengan lambat, lebih mendalam dan lama, jarang terjadi dan sulit diketahui lebih pandai menyembunyikannya.

Peranan orang tua dalam mengembangkan emosi anak usia 4-6 tahun sangatlah penting karena orang tua merupakan lingkungan terdekat anak, selain orang-orang di sekitarnya, keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak-anak didik pertama kali oleh lingkungan pertamanya yaitu keluarga, lebih khusus orang tuanya, ligkungan kedua yaitu yang berfungsi sebagai tempat pendidikan di luar adalah masyarakat. Dalam masyarakat tersebut anak akan berinteraksi dengan orang lain sehingga baik secara langsung maupun tidak langsung akan saling mempengaruhi pembentukan pribadi anak.

DAFTAR PUSTAKA

Santoso Soegeng, Pendidikan Anak Usia Dini, Jakarta:PT. Rineka Citra

Pendidikan, 2004

Yusuf Syamsu, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung:PT.

Remaja Rosda Karya, 2000

Goleman Daniel, Emotional Intelligence, Jakarta:PT. Gramedia Pustaka

Utama, Cetakan pertama, 1996

Solehudin, Konsep Dasar Pendidikan Prasekolah, Bandung:Depdikbud, 1997



[1] Soegeng Santoso, Pendidikan Anak Usia Dini, (Jakarta:Citra Pendidikan), h. 77-78

[2] Yusuf Syamsu, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung:PT. Remaja Rosda Karya, 2000 H. 115

[3] Goleman Daniel, Emotional Intelligence, Jakarta:PT. Gramedia Pustaka Utama, Cetakan pertama, 1996

[4] Yusuf Syamsu, Loc. Cit, h. 116

[5] Solehudin, Konsep Dasar Pendidikan Prasekolah, Bandung:Depdikbud, 1997, h. 40-41

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar