Senin, 23 Mei 2011

ISLAM DAN KEMANUSIAAN

PENDAHULUAN

Pada bagian ini kita membicarakan dua materi yang dihubungkan dengan islam, yang pertama islam dan moral, dan yang kedua islam dan kemanusiaan, bagian pertama berisi tentang tujuan Nabi Muhammad Saw diutus, dan akhlak mulia, sedangkan bagian kedua berisi tentang kdudukan manusia diantara makhluk Allah, tugas manusia dan manusia sebagai khalifah.

Dalam islam terdapat ajaran tata krama yang begitu baik, meskipun ada yang membedakan antara akhlak dan moral perbedaannya, antara lain dalam sumber atau rujukan, akhlak bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah, sedangkan moral tidak ber sumber dari Al-Qur’an dan sunah. Tata krama atau tuntunan bertingkah terdapat dalam Al-Qur’an dan sunnah, disamping itu dia tercermin dalam tujuan Nabi Muhammad Saw di utus menjadi Nabi dan rasul.

ISLAM DAN KEMANUSIAN

Pada bagian ini kita membicarakan tiga hal yaitu kedudukan manusia diantara makhluk Allah, tugas manusia dan sebagi khalifah.

1. Kedudukan Manusia

Jalaludin kakhmal (lihal Budhy munawar-Rahmn (ed), 1994 : 75-80) menulis sebuah artikel dengan judul “konsep-konsep antropologis”. Dalam tulisannya, ia mengatakan bahwa dalam Al-Qur’an terdapat tiga istilah kunci yang mengacu pada makna pokok manusia : Basyar, Insan, dan Al-Nas.

a. Basyar yang dalam Al-Qur’an di sebut sebanyak 27 kali, memberikan refrensi kepada manusia sebagai makhluk biologis. Adapun acuan pendapat ini adalah surat Ali Imran (3) : 47 sebagai makhluk biologis, manusia dapat dilihat dari perkataan maryam kepada Allah : Tuhanku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal aku tidak di sentuh basyar” (Al-Imran (3) : 47). Nabi Muhammad Saw di suruh Allah menegaskan bahwa secara biologis seperti manusia lain. Konsep basyar selalu di hubungkan dengan sifat-sifat biologis manusia, makan, minum, seks, dan berjalan di pasar. Dari segi inilah kita dapat percaya kepada Abd Al-Jalil, Isa yang cenderung berpendapat bahwa Nabi Muhammad Saw melakukan Ijtihad sebagaimana sahabat melakukannya.

b. Insan yang dalam Al-Qur’an di sebut sebanyak 65 kali, dapat dikelompokan kedalam tiga katagori : pertama, Insan dihubungkan dengan konsep manusia sebagai Khalifah atau pemikul amanah. Kedua : Insan dihubungkan dengan predisposes negative manusia. Ketiga : Insan dihubungkan dengan proses penciptaan manusia. Semua konteks Insan menunjuk pada sifat-sifat psikologis atau spiritual.

c. Al-Nas yang mengacu kepada manusia sebagi makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, Al-Nas dapat kita lihat dalam beberapa segi.

1. Banyak ayat yang menunjukan kelompok sosial dengan karakteristiknya.

2. Dengan memperhatikan ungkapan aktsar Al-Nas Jalaludin Rahmat menyimpulkan bahwa sebagian besar manusia mempunyai kualitas rendah, baik dari segi ilmu maupun Iman.

2. Tugas Manusia

Dengan mengacu kepada Al-Qur’an, kita dapat mengatakan bahwa tugas manusia adalah beribadah kepada Tuhan dalam arti umum, bukan hanya ibadah dalam arti khusus atau mahdlah. Dalam surat Al-Dzariyat (5) ayat 56. Allah berfirman,”Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahku”.

Adapun tugas ibadah dalam pengertian khusus adalah menyembah Allah dengan cara-cara yang secara teknis telah di atur dalam sunnah. Dalam islam, tidak ada pemisahan antara ibadah yang bersifat Vertikal dan ibadah yang bersifat Horizonatal, sebagai kegiatan ibadah yang bersifat Vertikal, salat, misalnya dilakukan untuk mengingat (dzikir) Allah.

Pesan dasar inilah yang menuntun hidup kita tidak terjebak pada penghayatan agama yang bersifat formalitas. Hendaklah kita berusaha memahami agama secara subtantif sehingga tidak mengabaikan pesan-pesan moral agama.

3. Manusia Sebagai Khalifah

Tidak ada konsep kitab suci tentang manusia yang lebih terkenal kecuali ajaran tentang kekhalifahan manusia. Dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah (2) ayat 30, disebutkan bahwa manusia adalah khalifah (wakil pengganti atau duat ) Tuhan di bumi.

Setelah menjelaskan drama kosmis sedang merujukan pada 3 peristiwa reaksi para malaikat atas kehendak Tuhan untuk menjadikan manusia sebagai khalifah, peristiwa pengusiran Nabi Adam As, dan Hawa karena keduanya tidak taat atas perintah Tuhan untuk menjahui sebuah pohon dan dimaafkanya Adam dan Hawa yang telah terusir dari surga-Nurcholish Madjid (1998 : 17-8), dalam mimbar studi jurnal ilmu agama islam Nomor I/XXII/1998, melakukan interpretasi sebagai berikut.

  1. Kisah itu menunjujkan martabat manusia yang sangat tinggi, yaitu sebagai khalifah atau wakil Tuhan di bumi.
  2. Martabat itu bersangkutan dengan konsep bahwa alam dengan segala isinya disediaklan untuk manusia.
  3. Martabat itu juga berkaitan dengan nilai kemanusiaan universal.
  4. Untuk menjalankan tugasnya sebagai khalifah Allah di bumi, manusia dilengkapi dengan ilmu pengethuan.
  5. Kelengkapan martabat manusia adalah kebebasasan yang mengenal batas.
  6. Pelanggaran terhadap batas membuat manusia jatuh, tidak terhormat.
  7. Dorongan untuk melanggar batas ialah nafsu serakah, yaitu perasaan yang tidak pernah puas dengan anugrah Tuhan.
  8. Karena kelengkapan ilmu saja tidak menjamin manusia terhindar dari kejatuhan, maka manusia memerlukan petunjuk Allah.
  9. Dengan mengikuti petunjuk Allah, manusia dapat memperoleh kembali kebahagiaan surganya yang telah hilang.

Dengan demikian, maka kekhalifahan manusia di bumi adalah bahwa manusia adalah “duta” Tuhan di bumi dan akan di minta pertanggung jawaban atas tugasnya “duta” tersebut. pada dasarnya, doktrin itu merupakan pemicu agar manusia banyak melakukan kebaikan dan sedikit-kalau bisa tidak sama sekali-melakukan kejahatan.

Manusia

A. Manusia Dalam Al-Qur’an di sebut :

1. Al-Insan (Al-Insani)

2. Al-Basyar (Al-Hijr 28)

3. Bani Adam (Al-Isra 70)

4. An-Nas

B. Proses Kejadian Manusia

1. Melalui masa yang tidak di sebutkan (Al-Insani)

2. Mengalami beberapa tingkatan kejadian (Nuh 14)

3. Pada masa Nuh berjanji kepada Allah (Al-A’ra 172)

4. Ditumbuhkan dari tanah seperti tumbuh-tumbuhan (Nuh 17)

5. Dijadikan dari tanah liat = lazib (Ash-Shaffat 11)

6. Dijadikan dari tanah kering dan Lumpur hitam (Shashal dan hamaln). Al-Hijr 28.

7. Berproses dari sari pati tanah, nuthfah dalam rahim, segumpal darah segumpal daging, tulang, dibungkus dengan daging, makhluk yang baik (Al-Mu’minun 12-14).

8. Kemudian ditiupkan ruh (Ash-shad : 72, Al-Hijr 29).

C. Tubuh manusia

terdiri dari roh dan jasad, kedua unsur ini membentuk senyawa, sehingga terwujud proses dan mekanisme hidup terputusnya dua unsur ini berarti terjadinya kematian.

D. Keistimewaan manusia dari makhluk lainya :

1. Manusia sebagai ciptaan yang tertinggi dan terbaik (At-Tihu).

2. Manusia di mulyakan dan di istimewakan oleh Allah (Al-Isra).

3. Mendapatkan tugas mengabdi.

4. Mempunyai peranan sebagai Khalifah.

5. Mempunyai tujuan hidup, yaitu mendapatkan nidha Allah.

6. Untuk melaksanakan tugas serta peranannya guna mencapai tujuan hidup.

E. Sifat-sifat manusia antara lain :

1. Bersifat tergesa-gesa

2. Sering membantah

3. Ingkar dan tidak berterima kasih kepada Tuhan

4. Keluh-kesah dan gelisah serta kikir

5. Putus asa bila ada kesusahan

6. Kadang-kadang ingat Tuhan karena penderitaan.

F. Kehidupan manusia

1. Tujuan Hidup

- Mencari Ridha Allah

2. Tugas Hidup

- Mengembalikan diri kepada Allah dalam berbagai aspek kehidupan

3. Peranan hidup

- Khalifah, wakil Allah IKH mewujudkan kehendak ilahi di bumi

- Pelanjut risalah/menyampaikan ajaran-ajaran Allah dan membelannya

4. Pedoman Hidup

- Al-Qur’an dan As-Sunah

5. Teladan Hidup

- Muhammad Rasulullah Saw

6. Kawan Hidup

- Muminin-muminat

7. Lawan Hidup

- Syaitan dari sifat-sifat syaithan seperti : Syirik, Kufur dan lain-lain

8. Bekal Hidup

- Seluruh alam raya dan isinya.

Masyarakat adalah kumpulan sekian banyak individu kecil atau besar yang terikat oleh satuan, adat, riyus atau hukum khas, dan hidup bersama. Ada beberapa kata yang digunakan Al-Qur’an untuk menunjukan kepada masyarakat atau kumpulan manusia antara lain : gawm, ummah, syaub, dan gabil. Disamping itu Al-Qur’an juga memperkenalkan masyarakat dengan sifat-sifat tertentu, seperti Al-Mala; Al-Mustakbirun, Al-Mustadh’afun dan lain-lain.

Al-Qur’an menekankan kebersamaan anggota masyarakat seperti gagasan sejarah bersama, tujuan bersama, catatan perbuatan bersama bahkan kebangkitan, dan kematian bersama. Dari sini lahir gagasan amar ma’ruf dan nahi munkar. Serta konsep fardu kifayah dalam arti semua anggota masyarakat memikul dosa bila sebagian mereka tidak melaksanakan kewajiban tertentu.

Hukum-hukum kemasyarakatan Al-Qur’an serta dengan uraian tentang hukum-hukum yang mengatur lahir, tumbuh dan runtuhnya suatu masyarakat. Salah satu hukum kemasyarakatan yang amat popular walaupun sering di terjemaah dan di pahami secara keliru adalah firman Allah yang berbicara tentang hukum perubahan.

ان الله لا يغير ما بقو م حتى يغير وما بانفسهم

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang terdapat pada satu kaum (masyarakat). Sehingga mereka mengubah apa yang terdapat dalam diri (sikap mental) mereka”.

Dua macam perubahan dengan dua perilaku.

1. Perubahan masyarakat yang pelakunya adalah Allah.

2. Perubahan keadaan diri manusia (sikap mental) yang peakunya adalah manusia. Perubahan yang dilakukan tuhan terjadi secara pasti melalui hukum-hukum masyarakat yang ditetapkannya. Hukum-hukum tersebut tidak memilih kasih atau membedakan antara satu masyarakat dengan masyarakat lain. Ma bi anfusihim yang di terjemahakan dengan apa yang terdapat dalam diri mereka terdiri dari dua unsur pokok yaitu nilai-nilai yang di hargai dan iradah (kehendak) manusia. Perpaduan keduanya menciptakan kekuatan pendorong guna melakukan sesuatu. Ayat di atas berbicara tentang manusia dalam keutuhannya, dan dalam kedudukannya sebagai kelompok, bukan sebagai wujud individual. Dipahami demikian, karena pengganti nama pada kata anfusihim dari diri mereka tertuju kepada gawm (kelompok/masyarakat). Ini berarti bahwa seseorang betapa hebatnya tidak dapat melakukan perubahan kecuali setelah ia mampu mengalihkan arus perubahan kepada sekian banyak orang yang pada gilirannya menghasilkan gelombang, atau paling sedikit riak-riak perubahan dalam masyarakat.

BAB

PENUTUP

KESIMPULAN

Manusia adalah “makhluk sosoial” manusia diciptakan oleh Allah dari segumpal darah “atau” sesuatu yang berdempet di dinding rahim.

Manusia di ciptakan terolini dari laki-laki dan perempuan, bersuku-suku, berbangsa-bangsa agar mereka bisa saling mengenal antara satu dengan yang lainnya.

Dengan demikian dapat di katakana bahwa menurut Al-Qur’an, manusia secara fitri adalah makhluk sosial dan hidup bermasyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Drs. Atang Abd. Hakim, MA. Dr. Jaih Mubarok. Metodologi Studi Islam.PT. Remaja Rosada Karya. Bandung

Dr. M. Quraish Shihab, M. A. Khasanah Ilmu-Ilmu Islam, Mizan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar