Senin, 23 Mei 2011

ISLAM PADA MASA ALI BIN ABI THALIB

BAB II

ISLAM PADA MASA ALI IBN ABI THALIB 30-40 (656-661)

A. Khalifah Ali Ibn Abi Thalib

Beliau ialah Ali ibnu Abi Thalib ibnu Abdil Muttalib, putra dari paman Rasulullah dan suami dari putri belau Fatimah. Fatimah adalah satu-satunya putri Rasulullah yang ada mempunyai keturunan. Dari pihak Fatimah inilah Rasulullah mempunyai keturunan sampai sekarang.

Muhammad s.a.w. di asuh oleh Abu Thalib sesudah Abdul Muttalib meninggal. Kemudian, karena hasrat hendak menolong dan menbalas jasa kepada pamannya, maka Ali di ambil Muhammad s.a.w., di asuh dan dididiknya. Hal ini dapat meringankan kesempitan hidup Abu Thalib, lebih-lebih waktu negri Makkah ditimpah bahaya kelaparan. Abu Thalib adalah bapak dari banyak anak.

Di waktu Muhammad di utus menjadi rasul, Ali termasuk orang yang pertama menyatakan imannya dan waktu itu ia masih kecil. Oleh karena itu Ali terkenal sebagai kanak-kanank yang mula-mula beriman. Di malam Rasulullah hijrah ke Madinah, Ali tidur ditempat tidur Rasulullah, hal ini dilakukannya dengan tenang. Ia tahu bahwa perbuatannya berbahaya, dan bahaya mati bagi siapa yang tidur di tempat itu.

Ali semenjak kecil sudah dididik dengan adab dan budi pekerti Islam. Lidahnya amat fasih berbicara, dan dalam hal ini ia terkenal ulung. Pengetahuannya dalam agama islam amat luas. Dan mungkin, karena rapatnya dengan Rasalullah s.a.w., beliau termasuk orang yang paling banyak meriwayatkan hadis Nabi. Keberaniannya juga masyur dan hamper di seluruh peperangan-peperangan yang di pimpin Rasulullah, Ali senantiasa berada di barisan muka. Hamper di setiap peperangan yang di pimpin oleh Rasulullah, Ali tetap ada di dalamnya, bergulat atau perang tanding, dengan tak takut mati. Sering Ali dapat kemenangan bagi kaum Muslimin dengan mata pedangnya yang tajam.

Menurut hemat saya, bahwa keberanian Ali dan banyaknya darah manusia yang telah ditumpahkannya, dalam membela dan mempertahankan agama Islam dari orang-orang yang menyerangnya, menyebabkan ia banyak musuh. Banyak orang yang luka hatinya, karena pahlawan-pahlawan mereka - yang karena tertipu oleh keberaniannya masing-masing, lalu menentang Islam – telah menemui ajalnya di ujung pedang Ali yang tajam.

Adapun budi pekerti Ali, kesalehan, keadilan, toleransi dan kebersihan jiwanya, sangat terkenal. Ali terhitung seorang dari tiga tokoh-tokoh utama yang telah mengambil pengetahuan, budi pekerti dan kebersihan jiwa dari Rasulullah s.a.w. tokoh-tokoh utama yang tiga itu ialah Abu Bakar, umar dan Ali. Mereka bertiga terpandang laksana mercu suar yang memancarkan cahayanya ke segenap penjuru alam.

B. 1. Proses Pengangkatan Ali Bin Abi Thalib

Pengukuhan Ali menjadi khalifah tidak semulus pengukuhan tiga orang khalifah sebelumnya. Ali dibai’at di tengah-tengah suasana berkabung atas meninggalnya Utsman, pertentangan dan kekacauan, serta kebingungan umat Islam Madinah. Sebab, kaum pemberontak yang membunuh Utsman mendaulat Ali supaya bersedia dibai’at menjadi khalifah. Setelah Atsman terbunuh, kaum pemberontak mendatangi para sahabat senior satu persatu yang ada di kota Madinah, seperti Ali Bin Abi Thalib, Tahlhah, Zubair, Saad bin Abi Waqqash, dan Abdulah bin Umar bin Khaththab agar bersedia menjadi khalifah, namun mereka menolak. Akan tetapi, baik kaum pemberontak maupun kaum Anhar dan Muhajirin lebih menginginkan Ali menjadi khalifah. Ia di datangi beberapa kali oleh kelompok-kelompok tersebut agar bersedia dibai’at menjadi khalifah. Namun, Ali menolak. Sebab, ia menghendaki agar urusan itu diseesaikan melalui musyawarah dan mendapat persetujuan dari sahabat-sahabat senior terkemuka. Akan tetapi, setelah massa rakyat mengemukakan bahwa umat Islam peru segera mempunyai pemimpin agar tidak terjadi kekacauan yang lebih besar, akhirnya Ali bersedia dibai’at menjadi khalifah.

Ia dibai’at oleh mayoritas rakyat dari Muhajirin dan Anshar setiap para tokoh sahabat, seperti Thalhah dan Zubair, tetapi ada beberapa orang sahabat senior, seperti Abdullah bin Umar bin Khaththab, Muhammad bin Maslamah, Saad bin Abi Waqqas, Hasan bin Tsabit, dan Abdullah bin Salam yang waktu itu berada di Madinah tidak mau ikut membai’at Ali.

Ibn Umar dan Saad misalnya bersedia berbai’at kalau seluruh rakyat sudah berbai’at. Mengenai Thalhah dan Zubair diriwayatkan, mereka berbai’at secara terpaksa. Riwayat lain menyatakan mereka bersedia berbai’at jika nanti mereka di angkat menjadi gubernur di Kufah dan Bashrah. Akan tetapi, riwayat lain menyatakan bahwa Thalhah dan Zubair bersama kaum Anshar dan Muhajirin yang meminta kepada Ali agar bersedia dibai’at menjadi khalifah. Mereka menyatakan bahwa mereka tidak punya pilihan lain, kecuali memilih Ali.

Dengan demikian, Ali tidak dibai’at oleh kaum muslimin secara aklamasi karena banyak sahabat senior ketika itu tidak berada di kota Madinah, mereka tersebar di wilayah-wilayah taklukan baru; dan wilayah Islam sudah meluas ke luar kota Madinah sehingga umat Islam tidak hanya berada di tanah Hizah (Mekah, Madinah, dan Thaif), tetapi sudah tersebar di Jazirah Arab dan di luarnya. Salah seorang tokoh yang menolak untuk membai’at Ali dan menunjukkan sikap konfrotatif adalah Muawiyah bin Abi Sufyan, keluarga Utsman dan Gubernur Syam. Alasan yang di kemukakan karena menurutnya Ali bertanggung jawab atas terbunuhnya Utsman.

Setelah Ali Bin Abi Thalib dibai’at menjadi khalifah di Masjid Nabawi, ia menyampaikan pidato penerimaan jabatannya sebagai berikut.

“Sesungguhnya Allah telah menurunkan Kitab suci Al-Quran sebagai petunjuk yang menerangkan yang baik dan yang buruk maka hendalah kamu ambil yang baik dan tinggalkan yang buruk. Kewajiban-kewajiban yang kamu tunaikan kepada Allah akan membawa kamu kesurga. Sesungguhnya Allah mengharamkan apa yang haram, dan memuliakan kehormatan seorang muslim, berarti memuliakan seluruhnya, dan memuliakan keikhlasan dan tauhid orang-orang muslim. Hendaklah setiap muslim menyelamatkan manusia dengan kebenaran lisan dan tangannya. Tidak boleh menyakiti seorang muslim, kecuali ada kepentingan umum. Segeralah kamu melaksanakan urusan kepentingan umum. Sesungguhnya (urusan) manusia menanti di depan kamu dan orang yang di belakang kamu sekarang bisa membatasi, meringankan (urusan) kamu. Bertakwalah kepada Allah sebagai hamba Allah kepada hamba-hamba-Nya dan negri-Nya. Sesungguhnya kamu bertanggung jawab (dalam segala urusan) termasuk urusan tanah dan binatang (lingkungan). Dan taatlah kepada Allah dan janganlah kamu mendurhakainya. Apa bila kamu melihat yang baik, ambillah dan jika kamu melihat yang buruk, tinggalkanlah. Dan ingatlah ketika kamu berjumlah sedikit lagi tertindas di muka bumi.” “Wahai manusia, kamu telah membai’at saya sebagaimana yang telah kamu lakukan terhadap khalifah-khalifah yang dulu daripada saya. Saya hanya boleh menolak sebelum jatuh pilihan. Akan tetapi, jika pilihan telah jatuh, penolakan tidak boleh lagi. Imam harus kuat, teguh, dan rakyat harus tunduk dan patuh. Bai’at terhadap diri saya ini adalah bai’at yang merata dan umum. Barang siapa yang mungkir darinya, terpisahlah dia dari agama Islam”.

  1. POLITIK ALI DALAM PEMERINTAHAN

Politik yang dijalankan seseorang adalah gambaran pribadi orang itu, yang akan mencerminkan akhlak dan budi pekertinya. Ali mempunyai watak dan pribadi sendiri, suka berterus terang, tegas bertindak dan tak suka berminyak air. Ia tak takut akan celaan siapapun dalam menjalankan kebenaran. Disebabkan oleh keperbadian yang dimilikinya itu, maka sesudah ia dibai’at menjadi khalifah, dikeluarkannya dua ketetapan :

    1. Memecat kepala-kepala daerah angkatan Utsman. Dikirimnya kepala daerah baru yang akan menggantikan. Semua kepala daerah angkatan Ali itu terpaksa kembali saja ke Madinah, karena tak dapat memasuki daerah yang ditugaskan kepadanya.
    2. Mengambil kembali tanah-tanah yang dibagi-bagikan Utsman kepada famili-famili dan kaum kerabatnya tanpa jalan yang sah. Demikian juga hibah atau pemberian Utsman kepada siapapun yang tidak beralasan, diambil Ali kembali.

Banyak pendukung-pendukung dan kaum kerabat Ali yang menasehatinya supaya-menangguhkan tindakan-tindakan radikal seperti itu, sampai keadaan setabil. Tetapi Ali kurang mengindahkan. Pertama-tama Ali mendapat tantangan dari keluarga Bani Umaiyah. Mereka membulatkan tenaga dan bangunlah Mu’awiyah melancarkan pemberontakan memerangi Ali.

Boleh dikatakan bahwa hampir seluruh ahli sejarah dan ahli ketimuran mencela tindakan Ali. Dikatakannya Ali tidak bijaksana, dan tidak mendapat taufik dalam hal ini. Tetapi, saya berpendapat, bahwa tidaklah pada tempatnya meletakan tuduhan yang seberat itu ke pundak Ali. Tuduhan itu sangat berlebih-lebihan. Orang banyak menerima begitu saja dan ikut pula menuduh tanpa dipelajari dan diselidiki. Tetapi, hal ini tak perlu pula diherankan karena dalam masyarakat banyak pula terdapat hal seperti ini.

  1. PEPERANGAN JAMAL

Dinamakan perang Jamal (unta) karena Siti Aisyah istri Rasulullah dan putri Abu Bakar As Shiddiq ikut dalam peperangan ini dengan mengendarai unta. Ikut campurnya Aisyah memerangi Ali terpandang sebagai hal yang luar biasa, sehingga orang menghubungkan peperangan ini dengan Aisyah dan untanya, walupun peranan yang di pegang Aisyah tidak begitu besar.

Menganalisa pendirian Aisyah sehingga ikut campur dalam peperangan ini, memerlukan penuturan yang agak panjang dan akan kita bentangkan seperlunya.

Ada alasan bagi Aisyah supaya pasif saja, tidak ikut campur tangan dalam peperangan ini, sebaliknya ada pula alasan, dia harus menceburkan diri memasukinya. Sebelum alasan-alasan masing-masing kita perkatakan lebih dahulu kita nyatakan bahwa Aisyah serupa dengan kebanyakan kaum Muslimin tidak membenarkan tindakan-tindakan Utsman. Dia dan Thalhah paling banyak mengencam dan memperlihatkan kesalahan-kesalahan Utsman.

Tatkala rumah Utsman dikepung pemberontak, Aisyah meninggalkan Madinah menuju Makkah. Setelah dia mengetahui bahwa Ali telah dibai’ah dia marah dan berkata : “Demi Allah! Sekali-kali hal ini tidak boleh terjadi. Utsman telah dibunuh secara aniaya. Demi Allah saya akan menuntut bela”.

Aisyah kembali ke Makkah. Dia didatangi oleh Thalhah dan Zubair yang telah mendapat keizinan dari Ali meninggalkan Madinah untuk melakukan Umrah. Sementara itu dari Yaman datang pula ke Makkah Ya’ali ibnu Umaiyah – Gubenur angkatan Utsman – membawa kekayaan Baitul Mal, dan dari Basrah pun datang pula Abdullah Ibnu Amir membawa harta yang banyak pula. Mereka diprogandai Aisyah, dan ditambah dengan keluarga Umaiyah yang ada di Heza, mereka menggabungkan diri akan menuntutkan bela Utsman.

Aisah,thalhah dan zubair sanpai di basrah .bnyak orang yang mengabungkan diri kepada mereka ,di antaranya marwan ibnu hakam dari bani umaiyah .tetapi ,di lihat secara umum ,penduduk basrah pecah dua, ada yang meyongkong dan ada yang menantang .antara kedua golongan ini terjadi perkelahian yang banyak memakan korban .ratusan yang mati terutama golongan yang menantang Aisyah .

Kemudian ali datang dengan bala tentara yang banyak jumlahnya pertama –tama di usahakannya ,supaya aisyah dan pengikut –pengikutnya mengurunkan maksud mereka . dan kepeda beberapa orang di antara mereka ,di peringatkan akan ali akan bai’ah dan sumpah setia yang telah di berikan mereka .

Nasehat ali termakan oleh mereka .di adakan perundingan yang hampir berhasil ,kaum muslimin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar