Senin, 30 Mei 2011

KEMAKMURAN DALAM MASYARAKAT

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Merupakan suatu ukuran dalam masyarakat adanya lapisan sosial diantaranya ada sebagian orang yang berbenghasilan tinggi, menengah dan ada pula yang berpenghasilan lebih rendah atau sedikit.

Penghasilan seseorang merupakan suatu gambaran bagi kemakmuran suatu tempat atau daerah tertentu, sehingga unguk dapat menentukan makmur atau tidaknya suatu daerah tetentu terlihat pada penghasilan masyarakt itu sendiri.

Untuk lebih mengetahui tentang kemakmuran dalam masyarakat maka penuli memilih tema ini untuk dijadikan sebagai pokok bahasan dalam makalah ini.

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas dalam rangka mengetahui sejauh mana kemakmuran dalam masyarakat tertentu yang digambarkan dari sedikit banyaknya penghasilan masyarakat itu sendiri, adapun kemakmuan yang dialami masyarakat tentunya berbeda-beda tergantung pada prinsipnya masing-masing.

3. Tujuan Penulisan

Adapun yang menjadi tujuan dari penulisan makalah ini adalah :

a. Untuk mengetahui sejauh mana kemakmuran di dalam masyarakat

b. Dapat membedakan sedikit banyaknya penghasilan di dalam masyarakt

c. Lebih mengetahui arti kemakmuran yang terjadi di masyarakat.


BAB II

KEMAKMURAN DALAM MASYARAKAT

A. Pengertian Kemakmuran Dalam Masyarakat

1. Kemakmuran ialah : Suatu suasana umum dimana setiap orang banyak bekerja sungguh-sungguh dengan menggunakan kemampuan yang ada padanya terjamin akan rumah, sandang dan papannya yang layak buat dia sendiri dan keluarganya, istilah layak disini menunjukkan perbedaan-perbedaan taraf yang di nilai pantas buat orang-orang dari berbagai golongan ataupun lapisan-lapisan sosial yang berbeda satu sama lain.

2. Adanya lapisan-lapisan sosial atau kedudukan-kedudukan yang berbeda-beda tingkatannya dalam masyarakat, maka diakui pula adanya anggapan umum bahwa ukuan kemakmuran bagi tiap-tiap golongan atau lapisan di dalam masyarakat adalah berbeda-beda.

Sebenarnya pandangan yang dianut orang-orang terhadap pengertian kemakmuran menurut buruh, guru, ulama, pegawai, pengusaha dan sebagainya, jadi kedudukan-kedudukan tidak hanya mempunyai perbedaan dalam-dala. Hak-hak dan kewajiban-kewajiban atau peranan, tetapi juga dapat berbeda presepsinya, bagi orang-orang yang biasa berfikir rasional kemakmuran masyarakat diukur dengan jumlah serta nilai bahan-bahan dan barang-barang yang dimiliki atau yang dikuasai untuk memelihara dan menikmati hidupnya, karena itu setiap orang mengejar berbagai fasilitas dan kebutuhan-kebutuhan yang diprlukan untuk menunjang kehidupan dan kelangsungan hidup keluarganya. Kebutuhan hidup itu bermacam-macam, akan tetapi apabila digolongkan ada dua macam yaitu :

Kebutuhan primer dan kebutuhan sekunder, kebutuhan primer berupa barang-barang pangan, sandang dan papan yang pertama dituntut untuk menunjang hidup manusia. Kebutuhan-kebutuhan yang tidak dapat ditangguhkan penggunaannya disebut kebutuhan sekunder.

Pandangan yang berbeda dari pandangan diatas adalah yang dianut masyarakat umum, terutama hidup di daerah pedesaan.

B. Kemakmuran Dan Kebahagiaan

Bagi masyarakat pedesaan yang tidak membedakan antara kemakmuran dan kebahagiaan, maka seseoarng merasa makmur apabila ada keserasian antara keinginan-keinginannya dan keadaan material dan sosial yang dimiliki atau dikuasainya, apabila keadaan sosial atau material itu melebihi keinginannya maka keadaan itu dapat mengganggu keseimbangan rasa pada orang yang mengalaminya, sampai pada suatu waktu rasa kemakmuran itu meningkat lebih tinggi pula. Sebaliknya apabila keadaan material atau sosial tadi kurng dari pada yang di inginkannya maka perasaan orang yang mengalaminya dapat diliputi oleh kekecewaan sampai ia berhasil mencapai keseimbangan lagi antara keinginan dan keadaan yang nyata di sekitarnya. Oleh karena itu setiap orang mencari keseimbangan antara keinginan dan keadaan materi atau sosial, untuk mencapai keseimbangan itu berbagai cara dapat dilakukannya, ada yang menggunakan daya dan tipu daya, saling bersaing, saling bertengkar, makan memakan antara seorang dengan yang lainnya di dalam suatu lingkungan.

Untuk memulihkan kembali perasaan makmr pada seseoarng dapat diatasi melalui dua cara yaitu :

1. keadaan materi atau sosial ditingkatkan sesuai dengan keinginan-keinginan

2. keinginan-keinginan diturunkan sesuai dengan keadaan materi atau sosial yang dimiliki

Kalau kita bandingkan kedua pandangan diatas yang pertama bersifat eksak, kalau tidak dinamakan absolut, pandangan kedua lebih bersifat relatif sebab adanya faktor-faktor keinginan yang pada pokoknya berdasarkan perasaan, pandangan keuda ahirnya berubah pula sebagai akibat perkembangan masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam proses moderenisasi yang menuntut berfikir secara eksak dan rasional.

Seseorang untuk memperoleh kemakmuran hidupnya di dalam keluarga umumnya setiap orang akan bekerja dengan sungguh-sungguh dengan menggunakan kemampuan yang ada padanya, persaingan-persaingan akan selalu terjadi faktor penyebabnya bukan karena persoalan keterbatasan lapangan kerja saja, tetapi masalahnya sangat komplek. Individu sendiri telah ditakdirkan mempunyai watak bersaing antara sesama manusia untuk menguasai sumber-sumber daya alam dan kekuasaan yang pada gilirannya untuk memperoleh kemakmuran buat dia sendiri dan keluarganya. Persaingan antara sesame manusia dalam usaha memperoleh sumber daya alam dan dana adala suatu yang wajar terjadi di dalam kehidupan masyarakat. Persaingan pada galibnya justru sebagai alat penggerak manusia dadri keadaan yang apatis tanpa gairah, namun demikian persaingan suatu saat bisa berubah menjadi konflik sebab kepentingan meraka bertabrakan. Sebaliknya justru tanpa persaingan, bekerja dengan sungguh-sungguh maka kemakmuran tidak bisa dicapai padahal setiap orang mengharapkan diri dan keluarganya memperoleh kemakmuran dapat mencapai jumlah dan nilai barang yang berlebihan untuk dimiliki dan di nikmati, minimal adanya keseimbangan antara kebutuhan hidup dengan materi atau sosial yang dimiliki.

Di samping itu tingkat kemakmuran suatu keluarga atau masyarakat ditentukan oleh standar nilai dan norma-norma yang berlaku di masyarakat tertentu. Demikian pula tingkat kemakmuran banyak dipengaruhi oleh keadaan faktor-faktor demogratis seperti fertilitas, moralitas, perkawinan, migrasi dan mobilitas sosial.

BAB III

PENUTUP

a. Kesimpulan

Kemakmuran ialah suatu suasana umum dimana setiap orang yang bekerja sungguh-sungguh dengan menggunakan kemampuan yang ada padanya terjamin akan rumah, sandang dan papannya yang layak buat dia sendiri dan keluarganya, istilah layak disini menunjukkan pada perbedaan-perbedaan karap yang dinilai pantas buat orang-orang dari berbagai golongan atau lapisan-lapisan sosial yang berbeda satu sama lain.

b. Saran

Untuk mencapai kemakmuran maka kita harus lebih meningkatkan penghasilan dari kemampuan yang miliki dengan tanpa merugikan orang lain.

DAFTAR PUSTAKA


H. Ahmadi Abi, Drs, Ilmu Sosial Dasar, PT. Adi Mahasatya, Jakarta.

Mubarok Jaih , A.Ma, Ilmu Sosial Dasar, Rineka Cipta , Jakarta

M.A Hakim Abd Atang,Drs. Ilmu Sosial Dasar, Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar