Senin, 23 Mei 2011

KEMISKINAN DALAM MASYARAKAT

BAB I

PENDAHULUAN

a. Latar Belakang

Salah satu masalah yang dipunyai oleh manusia yang sama tuanya dengan usia kemanusiaan itu sendiri dan implikasi permasalahannya dapat melibatkan seluruh aspek kehidupan manusia, tetapi sering tidak disadari kehadirannya sebagai masalah, ialah kemiskinan, maka dari itu penulis akan mencoba membahas tentang kemiskinan yang ada pada masyarakat.

Dalam kehidupan sehari-hari kemiskinan adalah suatu yang nyata adanya, bagi mereka yang tergolong miskin, mereka sendiri merasakan dan menjalani kehidupan dalam kemiskinan tersebut, kemiskinan itu akan lebih terasa lagi apabila mereka telah membandingkannya dengan kehidupan orang lain yang lebih tinggi tingkat kehidupannya.

b. Rumusan Masalah

· Apa pengertian dari kemiskinan

· Unsur apa saja yang menyebabkan kemiskinan

c. Tujuan Penulisan

Adapun yang menjadi tujuan makalah ini adalah :

- Untuk mengetahui tentang pengertian kemiskinan

- Dapat membedakan antara masyarakat miskin dan masyarakat makmur

- Ingin mengetahui berapa banyak orang yang masih di bawah garis kemiskinan.

BAB II

KEMISKINAN DALAM MASYARAKAT

a. Pengertian

Emil saliim (1982) menyatakan bahwa mereka dikatakan berada di bawah garis kemiskinan apabila pendapatan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok, seperti pangan, pakaian tempat berteduh dan lain-lain.

Suparlan (1981) menyatakan bahwa kemiskinan adalah sebagai suatu standar tingkat hidup yang rendah, yaitu adanya suatu tingkat kekurangan materi pada sejumlah atau se golongan orang di bandingkan dengan standar kehidupan yang umum berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan, standar kehidupan yang rendah ini secara langsung dampak pengaruhnya terhadap tingkat keadaan kesehatan, kehidupan moral dan rasa harga diri dari mereka yang tergolong orang miskin.

Kemiskinan bukanlah suatu yang terwujud sendiri terlepas dari aspek-aspek lainny, tetapi kemiskinan itu terwujud sebagai hasil interaksi antara berbagai aspek yang ada dalam kehidupan manusia, aspek-aspek tersebut terutama adalah aspek social dan ekonomi, aspek sosial adalah adanya ketidaksamaan sosial diantara sesama warga masyarakat yang bersangkutan, seperti perbedaan suku bangsa, ras, kelamin, usia yang bersumber dari corak system pelapisan social yang ada dalam masyarakat.

Sedangkan yang dimaksud dengan aspek ekonomi ialah adanya ketidaksamaan diantara sesama warga masyarakat dalam hak dan kewajiban yang berkenaan dengan pengalokasia sumber-sumber daya ekonomi.

Klasifikasi atau penggolongan seseorang atau masyarakat itu dikatakan miskin, ditetapkan dengan menggunakan tolak ukur. Tolak ukur yang umumnya dipakai ialah :

- tingkat pendapatan

- Kebutuhan relatif

Tolak ukur yang lain adalah tolak ukur kebutuhan relatif perkeluarga, yang batasan-batasannya di buat berdasarkan atas kebutuhan minimal yang harus dipenuhi guna sebuah keluraga dapat melangsungkan kehidupannya secara sederhana tapi memadai sebagai warga masyarakat yang layak.

Tercakupnya tolak ukur ini adalah kebutuhan-kebutuhan yang berkenaan dengan biaya sewa rumah dan peralatan rumah tangga yang sederhana tapi memadai.

Para ahli ilmu-ilmu sosial umumnya berpendapat bahwa sebab utama yang melahirkan kemiskinan ialah sistem ekonomi yang berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Sistem Ekonomi ini tercantum dalam berbagai prantara yang ada dalam masyarakat tersebut, yaitu system antar hubungan peranan-peranan dan norma-norma uamg ternegosiasi untuk usaha-usaha penentuan kebutuhan-kebutuhan sosial utama yang di rasakan perlunya dalam masyarakat.

Sistem ekonomi yang terjalin dalam perantara tersebut memberikan corak pada pole kehidupan ekonomi, yang menghasilkan adanya ketidakmerataan ekonomi yang dirasakan oleh warga masyarakat sebab tidak semua warna masyarakat tersebut dapat mencapai pola individu yang ada dalam pola kehidupan ekonomi yang bersumber pada system ekonominya.

b. Unsur-Unsur Kemiskinan

Kemiskinan menurut pendapat umum dapat dikategorikan dalam tiga unsur yaitu :

1. Kemiskinan yang disebabkan aspek badaniah atau menal seseorang.

2. Kemiskinan yang disebabkan oleh bencana alam

3. Kemiskinan buatan.

Kemiskinan disebabkan aspek badaniah biasanya orang-orang tersebut tidak dapat berbuat maksimal sebagaimana manusia lainnya yang sehat jasmaniah. Karena cacat badaniah misalnya, dia lantas berbuat atau bekerja secara tidak wajar, seperti pengemis atau meminta-minta.

Kemiskinan yang disebabkan oleh bencana apabila tidak dengan segera diatasi sama saja halnya akan menimbulkan beban bagi masyarakat umum lainnya, mereka yang kena bencana alam, umumnya tidak memiliki tempat tinggal bahkan sumber-sumber daya alam yang mereka miliki seluruhnya habis oleh pengikisan bencana alam, kemiskinan yang disebabkan oleh bencana alam biasanya pemerintah mengambil, atau menempuh dua cara, pertama sebagai pertolongan sementara diberikan bantuan secukupnya dan tindakan berikutnya mentransmigrasikan mereka ke tempat-tempat lain yang lebih aman dan memungkinkan mereka bisa hidup lebih layak.

Kemiskinan buatan disebut juga kemiskinan struktural ialah kemiskinan yang di timbulkan oleh dan dari struktur ekonomi, sosial dan faktor serta politik.

Dalam hal memerangi kemiskinan di mulai dengan resep ekonomi, kemudin di tunjang oleh tindakan sosial dan politik yang nyata, dan juga seringkali menjadi suatu masalah perdebatan di antara mereka yang merasa ada kaitannya dengan masalah tersebut yaitu bukan dengan cara dan sasarannya.

Pendaat lain ada yang menyatakan bahwa usaha memerangi kemiskinan hanya dapat berhasil kalau dilakukan dengan cara memnerikan pekerjaan yang memberikan penghasilan pendapatan yang layak kepada orang-orang miskin, karena dengan cara ini bukan hanya tingkat pendapatan yang di naikan, tetapi harga diri sebagai manusia dan sebagai warga masyarakat di naikknya seperti warga masyarakat lainnya. Dengan lapangan kerja dapat memberikan kesempatan kepada mereka untuk bekerja dan bertanggungjawab berbagai kegiatan di sektor lainnya.

BAB III

PENUTUP

a. Kesimpulan

Kemiskinan itu pada hakikatnya langsung berkaitan dengan sistem masyarkat secara menyeluruh dan bukan hanya ekonomi dan politik, sosial dan budaya, sehingga penanganannya harus berlangsung secara menyeluruh dengan suatu strategi yang mengandung kaitan-kaitan semua aspek dan prikehidupan manusia.

b. Saran

Untuk memberantas kemiskinan maka kita harus menghilangkan sifat “malas” dalam diri kita masing-masing, dan mulai hidup dengan penuh kerja keras dengan tidak merugikan orang lain, sungguh-sungguh adalah kunci pertama untuk menuju keberhasilan dan memberantas kemiskinan.

DAFTAR PUSTAKA

H. Ahmadi Abi, Drs, Ilmu Sosial Dasar, PT. Adi Mahasatya, Jakarta.

Mubarok Jaih , A.Ma, Ilmu Sosial Dasar, Rineka Cipta , Jakarta

M.A Hakim Abd Atang,Drs. Ilmu Sosial Dasar, Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar